Baca Artikel

Begini Sejarah Pura Dalem Kedewatan, Sanur dan Baris Tumbak

Oleh : sanurkaja | 16 April 2019 | Dibaca : 100 Pengunjung

BEGINI SEJARAH PURA DALEM KEDEWATAN SANUR, BARIS TUMBAK

Pura dalem Kedewatan yang terletak di Jalan Hang Tuah, Desa Sanur, tidak saja unik dari sisi penetapan hari piodalannya, tapi ada tradisi tarian Baris Tumbak. Tari Baris Tumbak yang ditarikan oleh pemaksan pura, merupakan bagian sejarah berdirinya Pura Dalem Kedewatan Kelian Pemaksana Pura Dalem Kedewatan Sanur, Ida Bagus Mudiartha mengatakan,  Pura Dalem Kedewatan ini merupakan pura dang kahyangan, karena sejarah berdirinya pura tidak terlepas dari rangkaian perjalanan tirtha yatra dari Dhang Hyang Nirartha yang datang ke Bali ketika pemerintahan Ida Dalem Waturenggong pada tahun 1460-1550 M.

Ida Bhatara Dhang Hyang Nirartha tidak saja mengunjungi pura a yang sudah ada di Bali, tetapi juga mendirikan pura. “Salah satunya adalah Pura Dalem Kedewatan ini, didirikan oleh putranya, yang sebelumnya menetap di pesisir Padanggalak,” jelasnya, akhir pekan kemarin .

Seperti yang tercatat dalam sejarah Pura Dalem Kedewatan, Ida Pedanda Telaga Sakti Ender yang merupakan putra dari Dhang Hyang Nirartha yang tinggal di daerah Klungkung ini, memiliki empat orang putra. Putra yang pertama adalah Ida Pedanda Telaga Tawang, yang kedua Ida Pedanda Made Telaga. Putra  ketiga Ida Pedanda Anom Bandesa, dan yang keempat adalah Ida Pedanda Penida. Keempat putra Ida Pedanda Telaga Sakti Ender ini, setelah berkuasanya Ida Dalem Segening (1580-1665 M), tinggal di beberapa wilayah di Bali.  Ida Pedanda Telaga Tawang tinggal di Desa Kamasan, sedangkan ketiga adiknya yakni Ida Pedanda Made Telaga, Ida Pedanda Anom Bandesa, dan Ida Pedanda Penida, tinggal di Wilayah Padanggalak. Setelah tinggal di Sanur, dua orang putra Ida Pedanda Telaga Sakti Ender , yakni  Anom Bandesa dan Ida Pedanda Penida, pindah ke Tabanan dan Buleleng. “Sehingga yang menetap di Padanggalak ini hanya Ida Pedanda Made Telaga saja,” lanjutnya.

Ida Pedanda Made Telaga yang menetap di Desa Padanggalak ini, akhirnya membentuk sebuah desa dengan pengikut sebanyak 40 kepala keluarga. Ida Pedanda Made Telaga, lanjut Mudiartha,  juga memiliki seorang istri bernapa I Gusti Ayu Putu Pacung yang merupakan keturunan dari I Gusti Ngurah Pinatih.

Setelah beberapa lama tinggal di Padanggalak, suatu ketika pedesaan Padanggalak yang diperintah Ida Pedanda Made Telaga dilanda bencana air bah. Setelah sempat bertahan beberapa lama, akhirnya pada hari yang telah ditentukan, berupaya untuk menyelamatkan diri dari bencana air bah ini. Ida Pedanda Made Telaga berserta para pengikutnya pergi meninggalkan Desa Padanggalak. Saat itu, Ida Pedanda Made Telaga beserta keluarga dan pengikutnya mendapat petunjuk berupa sinar putih dari sisi utara Desa Padanggalak. “Kemudian, arah datangnya sinar putih itu dinamakan Desa Sanur yang berasal dari kata “Sah” dari urat kata “Sa” yang artinya tunggal dan “Nur” yang berarti sinar atau teja atau cahaya,” terang  Mudiartha. Setelah mendapat petunjuk tersebut, para pengikut dari Ida Pedanda Made Telaga akhirnya sempat berlindung di Desa Sanur dengan cara nyatur. Yakni, menyebar keempat penjuru arah dari pusat datangnya sinar suci tersebut, seperti di Pakandelan di sisi utara, Batanpoh di sisi timur, Pemaron di sisi selatan, dan Belong di sisi Barat. Sedangkan Ida Pedanda Made Telaga tinggal di pusat desa bersama dengan putranya. Setelah mendapatkan tempat tinggal, akhirnya para pengikut ini diperintahkan untuk ngingsirang (memindahkan)  pura-pura yang sebelumnya ditinggalkan di Padanggalak. Ada pun pura yang ditinggalkan tersebut adalah Pura Dalem Kedewatan, Pura Batur, Pura Kahyangan Tiga. “Sedangkan beberapa pura lainnya, seperti Pura Padang Sakti dan Pura Kentel Gumi masih ada di Tangtu, karena saat itu masih ada masyarakat yang tinggal di sana yang ditugaskan untuk memelihara pura,” tambahnya.

Ketika proses ngingsirang pura ini, masyarakat bergotong royong selama beberapa waktu. Karena pura-pura yang ada di Padanggalak masih dalam kondisi baik, pura-pura tersebut dipindahkan secara keseluruhan. “Proses permindahan inilah yang diceritakan dalam tari Baris Tumbak yang ditarikan setiap upacara piodalan,” ungkapnya.

Tari Baris Tumbak, merupakan salah satu tari wali yang wajib ditarikan di Pura Dalem Kedewatan. Tarian ini dipersembahkan  pada saat Ida Bhatara datang dari prosesi Mlasti. “Tarian ini menjadi tari untuk menyambut Ida Bhatara datang dari proses pasucian di Pantai Sanur,” jelasnya. Tari Baris ini, lanjut Mudiartha, mengambil lakon tentang bagaimana proses pemindahan pura yang ada di Padanggalak menuju Desa Sanur, sehingga atribut dan perlengkapan yang digunakan untuk menarikan tari baris ini identik dengan bahan bangunan.

Penari Baris Tumbak yang berjumlah 11 orang, merupakan  penunjukan berdasarkan dari keturunan. “ Jika tidak ditarikan oleh keturunan yang bersangkutan, maka taksu dari Tari Baris Tumbak ini akan hilang, sehingga tari ini tidak akan memiliki nilai spiritual lagi,” lanjutnya.

Khusus piodalan di Pura Dalem Kedewatan ini, jatuh tiga hari setelah hari pertemuan antara tilem (bulan mati) dengan wewaran kajeng. Secara umum, pura ini disungsung oleh masyarakat Desa Adat Sanur,  dan yang dipuja adalah Ida Bhatara Dalem Kedewatan sebagai manifestasi dari Dewa Siwa. 


Oleh : sanurkaja | 16 April 2019 | Dibaca : 100 Pengunjung


Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Foto
Pembukaan Sanur Fiesta
Video
KEGIATAN USAHA KESEJAHTERAAN SOSIAL KARANG TARUNA ASTA DHARMA DESA SANUR KAJA
Facebook
Twitter